Saya dan Gempa 7.8 SR semalam
Gempa 7.8 SR yg mengguncang daerah laut sekitar mentawai semalam memang menyimpan cerita untukku pribadi.
Pertama, ini gempa besar pertama yang aku alami ketika saya jauh dari orangtua, berada di zona merah, dan dalam kondisi sendiri. Gempa yg mengguncang padang tahun 2009 memang lebih hebat dari gempa kemaren, tapi aku sama sekali tidak risau karena berada jauh sangat jauh dari laut, bersama ustad/ustadzah dan juga teman-teman.
Ketika gempa terjadi, aku sedang di ELECTRA. Kak Yeni dan Kak Riza (guru di ELECTRA) menawarkanku untuk menginap dirumah beliau. Tapi aku ragu karena kawan-kawan dirumah dan keesokan harinya aku harus ke kampus. Keputusan sudah bulat. Pulang.
Diperjalan pulang orang-orang berdiri diluar rumah. Aku masih cukup santai dan kalem. Sinyal hp sama sekali tidak hilang. Setelah berjalan sekitar 30 meter, tiba2 semua orang berlari. Sirine berbunyi, mereka berteriak "aia suruik".. aku yg tadinya tenang, sudah tidak tenang lagi dan ikut rombongan lari. Lelah berlari coba jalan sebentar, lalu mencoba menghubungi siapa saja. aku telfon winda, tidak masuk. Telfon orangtua, tidak masuk. Aku telfon abg sepupu tpi yg angkat perempuan. *eh, sejak kapan???
Ketika sampai didepan kuburan tunggul hitam, perlahan akal sehat mulai berputar. Banyak pertanyaan muncul "kenapa sinyal tidak hilang?". "kenapa masih ada yg tenang berdiri, bahkan tertawa". "kenapa geng vespa itu masih sempat merokok?". Tapi sygnya pertanyaan tersebut tidak cukup mampu membuatku berhenti berlari. Aku tetap berlari sampai akhirnya orangtua menelfon. Mereka panik. Mama menangis. Membayangkan anak gadis cantiknya ini sendiri, jauh dari dirinya, berlari menyelamatkan diri. Ketika orangtua menelpon, aku coba berjalan dan tidak berlari lagi sampai tiba-tiba jalanan yg sepi itu seketika rame. Ya panik lagi dong. Aku lihat bnyk pengendara motor yang berkendara sendiri. nampaknya motor jauh lebih baik untuk pergi menyelamatkan diri. Aku beranikan diri untuk menghadang siapa sj yg lewat dijalan itu. Tidak ada yg berhenti.
Akhirnya, ada satu yg berhenti. Dengan suara bergetar aku minta dia untuk mengantrkanku ke rumah keluarga di dadok tunggul hitam. Anaknya ibu Emi Muslim. Dia memperkenalkan dirnya sebagai lelaki usia 30an yg sedang bekerja di PA. Dia bilang kondisi aman, tidak ada air. Sepanjang perjalanan, si Abang berusaha menenangkan hatiku. Dia melemparkan lelucon. Ya, akhirnya aku bisa tenang kembali.
Setelah semua terkendali, aku kembali menghubungi winda dan teman di kosan. Kami sepertinya sudah sangat dekat. Saling mencari tahu dan mencemaskan. Alhamdulillah kami semua aman. Yg dikos, ngungsi di lt2 rumah ibuk yg selama ini tak pernah kami injak sementara aku tetap di rumah keluarga.
Akhirnya. Alhamdulillah. Pernyataan dini tsunami dicabut oleh BMKG.
Malam kemaren, aku nginap dirumah keluarga. Jam 10 malam sudah sgt mengantuk dan akhirnya terlelap. Terhitung nyenyak klu saja tidak kegerahan dan makhluk Tuhan yg bertingkah seperti drakula itu tidak berulah. Heol..
Alhamdulillah, pagi ini aku bangun tanpa kurang apapun.
Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihinnusyuur.. Saya tunaikan kewajiban sholat shubuh.
Pagi ini aku berniat kembali ke kos karena harus ke kampus pagi ini. Beginilah anak tahun akhir. Tapi tiba2 aku terpikirkan satu hal. WNA tidak akan seketika cemas dan meninggalkan Sumatera Barat kan? Nasib 'juni ceria' ku ditangan mereka.
Husnudzhon. Allah Maha Baik. Allah pasti akan membantu orang-orang yang taat padaNya, berdoa padaNya, dan yakin padaNya. Iil yakin semua tetap seperti yg sudah direncanakan. Penelitian bisa dilakukan dan 'juni ceria' jadi kenyataan.
Allahumma la sahla illa ma ja'altahu sahla wa nata taj'alul hazana idza syi'ta sahla.
*sambil duduk mendengarkan wawancara anchor dengan Pak Nasrul Abit. Padang, 3 Maret 2016.
Komentar
Posting Komentar